KKP: Konsumsi Ikan jadi Solusi Jitu Atasi Stunting

  • Whatsapp

Liputan-pmi.com, Garut – Pada kunjungan kerjanya bersama dengan perwakilan dari Kementerian Pertanian (Kementan), anggota Komisi XI DPR RI dan anggota IV BPK RI di Situ Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu lalu, Aryo menyebut, saat ini baru 3 Provinsi di Indonesia yang lepas dari masalah stunting.

Mengingat Provinsi Jawa Barat belum terlepas dari masalah stunting, maka kegiatan Safari Gemarikan harus terus dilaksanakan berkolaborasi dengan berbagai pihak.

“Mengonsumsi ikan mampu atasi gizi buruk. Makanya kami akan terus mengajak masyarakat terus makan ikan, terutama daerah yang tingkat konsumsinya masih rendah. Salah satunya di Garut ini,” jelas dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Angka konsumsi ikan Kabupaten Garut pada 2018 hanya sebesar 20,70 kg per kapita (setara ikan utuh segar), masih di bawah angka konsumsi ikan Provinsi Jawa Barat 29,64 kg per kapita. Jumlah ini bahkan jauh di bawah angka konsumsi ikan nasional yang sebesar 50,69 kg per kapita.

“Bukan hanya Garut, masih banyak daerah yang tingkat konsumsinya rendah. Makanya kami nanti kami akan hadir di sana,” paparnya.

Apalagi menurut Aryo, di tengah jumlah penduduk yang terus meningkat, sangat penting menjaga ketahanan pangan. Ikan menjadi salah satu bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional dan mengatasi masalah stunting. Oleh karena itu, ketersediaannya harus cukup, baik diperoleh dari perikanan tangkap maupun hasil budidaya.

“Salah satu kegiatan untuk menjaga ketersediaan ikan ya restocking, dengan menebar benih ikan nilem seperti yang baru saja dilakukan di Situ Bagendit ini,” ujarnya.

Pada kunjungan kerjanya bersama dengan perwakilan dari Kementerian Pertanian (Kementan), anggota Komisi XI DPR RI dan anggota IV BPK RI di Situ Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu lalu, Aryo menyebut, saat ini baru 3 Provinsi di Indonesia yang lepas dari masalah stunting.

Mengingat Provinsi Jawa Barat belum terlepas dari masalah stunting, maka kegiatan Safari Gemarikan harus terus dilaksanakan berkolaborasi dengan berbagai pihak.

“Mengonsumsi ikan mampu atasi gizi buruk. Makanya kami akan terus mengajak masyarakat terus makan ikan, terutama daerah yang tingkat konsumsinya masih rendah. Salah satunya di Garut ini,” jelas dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (9/8/2019).

Angka konsumsi ikan Kabupaten Garut pada 2018 hanya sebesar 20,70 kg per kapita (setara ikan utuh segar), masih di bawah angka konsumsi ikan Provinsi Jawa Barat 29,64 kg per kapita. Jumlah ini bahkan jauh di bawah angka konsumsi ikan nasional yang sebesar 50,69 kg per kapita.

“Bukan hanya Garut, masih banyak daerah yang tingkat konsumsinya rendah. Makanya kami nanti kami akan hadir di sana,” paparnya.

Apalagi menurut Aryo, di tengah jumlah penduduk yang terus meningkat, sangat penting menjaga ketahanan pangan. Ikan menjadi salah satu bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional dan mengatasi masalah stunting. Oleh karena itu, ketersediaannya harus cukup, baik diperoleh dari perikanan tangkap maupun hasil budidaya.

“Salah satu kegiatan untuk menjaga ketersediaan ikan ya restocking, dengan menebar benih ikan nilem seperti yang baru saja dilakukan di Situ Bagendit ini,” ujarnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *