Kisah Pilu, PMI Rosita Bekerja di Negeri Konflik, Irak

  • Whatsapp

Irak, Liputan-pmi.com – Rustia, warga Dusun Wagir II, Desa Bengle, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang mengaku kaget begitu tahu dirinya berada di Kurdistan Irak. Sebab setahu Rustia, ia bakal menjadi TKW di Turki.

 “Saya baru tahu berada di Erbil Kurdistan Irak sebulan di majikan pertama,” kata Rustia saat dihubungi Kompas.com, Senin (14/10/2019).

Dari situ, ibu satu anak ini menyadari ada yang tak beres. Rustia kemudian menghubungi orang yang mengiming-imingi bekerja di Turki berinisial R. “Nomor saya diblokir,” kata Rustia.

Rustia mengaku mengenal Riki dari penyalur kerja sebelumnya, saat akan berangkat ke Singapura. Saat itu, ia batal berangkat ke negeri singa lantaran hasil tes kesehatan dinyatakan tidak fit. Oleh Riki, ia diiming-imingi gaji Rp 7.000.000 bekerja sebagai TKW di Turki. Ia pun berangkat dengan Septiani, warga Desa Walahar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, yang juga ditengarai menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Sempat Disekap

Mendekati dua bulan bekerja, Rustia dikembalikan ke ejen (penyalur) lantaran sakit. Namun, di kantor penyalur itu, ia mengaku diperlakukan kurang baik.

“Hp disita gak boleh makan, ga boleh mandi. Kamar mandi dikunci dari luar,” katanya.

Karena tidak kuat dengan perlakuan penyalur yang serba dibatasi itu, Rustia dan lima TKW asal Indonesia lainnya memilih kabur ke Kota Erbil. Di sana mereka dikirim ke polisi oleh kenalan rekannya. Oleh polisi, mereka dikembalikan ke penyalur.

“Orang kantor ngasih uang ke polisi itu. Terus kita disekap di hotel berenam,” katanya

Berharap pulang ke tanah air

Kini Rustia berharap bisa pulang ke tanah air dengan selamat. Berbagai upaya juga dilakukan. Selain menguhungi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang dan membuat video permohonan bantuan kepada Bupati Karawang, Cellica Nurrchadiana.

Rustia mengaku rindu kepada keluarga, terutama anak, ibu, dan suaminya. Ia belum beretemu sejak ia berangkat pada Ramadan lalu. “Mudah-mudahan lancar (pemulangan). Saya takut tidak bisa pulang,” katanya.

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana mengaku siap membantu pemulangan Rustia dan Septiani. Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Kementerian Luar Negeri lantaran pihaknya tidak bisa menangani kasus itu secara langsung.

Cellica menyebutkan, Rustia dan Septiani merupakan warga Karawang yang memiliki paspor dari Sukabumi dan Bekasi. Sehingga diindikasikan mereka berangkat menjadi TKI melalui jalur unprosedural atau ilegal. Meski demikian, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang akan membantu pemulangan keduanya.  

Segera dipulangkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang Ahmad Suroto mengatakan, pihaknya segera bertindak begitu mendapat informasi ada warganya yang menjadi korban TPPO di Irak. Pihaknya bergegas menemui keluarga korban hingga mencari tahu bagaimana korban bisa berangkat ke Irak.

“Kita sudah komunikasi dengan keluarganya dan juga mencari tahu sponsor yang memberangkatkan kesana. Kita juga sudah mengirim surat kepada kementerian Luar Negeri dan BNP2TKI agar bisa membantu pemulangan kedua orang tersebut,” kata Suroto.

Suroto mengatakan, Pemkab Karawang akan segera memulangkan keduanya begitu mengetahui keberadaan korban. Hanya saja karena situasi di Kurdistan Irak masih rawan peperangan, masih membutuhkan waktu untuk mencari keduanya.

“Di sana itu masih belum kondusif jadi kita harus bersabar mencari keduanya,” katanya. (Kompas.com)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *