Komisi VI DPR RI Soroti Soal Telkom

  • Whatsapp

JAKARTA OT – Kementerian BUMN diminta, tidak hanya menuntut tumbuhnya keuntungan dari PT Telkom, namun tetapi juga menilai dampak pengembangan digital yang dilakukan oleh Telkom.
Anggota Komisi VI DPR RI Lamhot Sinaga menegaskan, BUMN harus menilai
dampak pengembangan digital yang dilakukan oleh PT. Telkom yang berdampak hadirnya benefit-benefit yang dirasakan langsung oleh para pelaku usaha.
“Kementrian BUMN tidak hanya menuntut tumbuhnya keuntungan dari Telkom, akan tetapi melihat dampak pengembangan digital yang dilakukan oleh Telkom yang berdampak hadirnya benefit-benefit yang dirasakan langsung oleh para pelaku usaha.
Menurut Lamhot, menarik pernyataan Menteri dan Wamen BUMN tentang Telkom Indonesia yang seolah ingin memberi sinyal, akan ada perombakan besar-besaran baik secara organisasi maupun bentuk korporasi PT. Telkom Indonesia.
Dikatakan, Wamen BUMN katakan, Telkom lamban berinovasi mengikuti zaman, sementara Menteri BUMN mengatakan Telkomsel sebaiknya yang menjadi BUMN karena menyumbang reveneu 70 persen deviden kepada Negara, lebih besar dari Telkom Indonesia sebagai perusahaan induk.
Menurutnya, ide dan gagasan Menteri BUMN ini perlu disikapi secara hati-hati, karena regulasi belum tentu memungkinkan untuk merealisasikan hal tersebut.
“Perlu dipahami juga, besarnya Telkomsel tidak lepas dari pemanfaatan infrastruktur jaringan yang dibangun oleh Telkom,”tandasnya.
Untuk itu, ketua DPP Partai Golkar ini melihat pembenahan terpadu dan terintegrasi yang harus dilakukan terhadap Telkom Indonesia agar bisa menjadi korporasi yang handal dan berdaya saing global.
Telkom Indonesia, lanjut Lamhot, perlu mempercepat pembangunan platform yang mendukung Inovasi Nasional.
“Saya ingin menyampaikan, DPR mendukung BUMN menjadi tulang punggung inovasi Nasional,”tegasnya.
Dikatakan Indonesia membutuhkan platform digital beserta infrastrukturnya yang pada akhirnya akan mendukung penguatan ekonomi nasional, karena akan tumbuhnya bisnis digital dan bisnis yang berbasis digital di masyarakat.
“Saya ingin mencontohkan pengelolaan usaha mikro, kecil dan menengah di Indonesia yang masih minim sentuhan digital, jika seandainya ada platform yang mengelola penjualan, kebutuhan barang dan distribusinya, maka sinergi dengan BUMN atau swasta dapat memangkas pemicu biaya (cost driver),karena terhubungnya pemasok, distribusi (logistik) dan UMKM,”ujar dia.
Menuritnya, kita harus mengurangi ketergantungan dengan patform digital dari luar Indonesia. BUMN harus mengambil peran sebagai pusat inovasi nasional.
Disinilah dibutuhkan platform digital yang cerdas,murah, mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat dan tentu saja berkelanjutan.
BUMN, lanju Lamhot, perlu memberikan insentif penggunaan infrastruktur telekomunikasi untuk kebutuhan inovasi digital.
“Saya juga berharap BUMN akan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan gairah masyarakat
dalam meningkatkan kemampuan memanfaatkan inovasi digital, agar para start up atau bisnis digital rintisan di Indonesia berkembang, tidak seperti saat ini yang mati sebelum berkembang,”harapnya.
Pertanyaan yang muncul kemudian, lanjut Lamhot, adalah, siapakah BUMN yang menjadi leader dalam pengembangan platform inovasi nasional?
“Saya melihat, Telkom sebagai BUMN terbaik dalam bisnis Informasi dan teknologi di Indonesia yang tepat sebagai orkestrator untuk pengembangan inovasi nasional. Disitu letaknya sehingga Telkom Indonesia tidak relevan untuk ditiadakan, tetapi harus didorong terus untuk maju sesuai core bisnisnya,”pungkasnya. (bal)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *