Apjati Dukung Penuh Kepala BP2MI Telusuri Kekerasan PMI di Saudi

  • Whatsapp

Jakarta, Apjatinews.id – Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) mendukung upaya Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dalam menelusuri kasus penganiayaan pekerja migran Indonesia (PMI), Ika Sulastri, di Riyadh, Arab Saudi. Seperti diberitakan sejumlah media, Ika mengalami batuk berdarah hingga mimisan akibat kerap membawa beban yang berat. 

“Kami sepenuhnya mendukung upaya Kepala BP2MI Pak Benny Rhamdani dalam mencari tahu siapa pelaku kekerasan terhadap PMI bernama Ika Sulastri di Saudi,” ujar Ketua Apjati, Ayub Basalamah dalam kiriman rilis yang diterima redaksi, Sabtu malam (6/6/2020).

Menurut Ayub,  Apjati mendukung langkah penindakan hukum atas Perusahaan Penempatan PMI (P3MI) atau perorangan yang menempatkan PMI secara unprosedural dan itu berarti telah bisa dikenakan pasal Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Read More

Ayub menambahkan, kalaupun ada anggota Apjati yang terlibat TPPO, Apjati tidak akan melindungi dan bahkan Apjati sebagai mitra pemerintah minta agar pemerintah nantinya menginterviu setiap PMI yang kembali dari Timteng, khususnya dari Saudi Arabia dan Emirat (Abu Dhabi) untuk mengetahui pihak mana yang telah memberangkatkannya.

Seperti dirilis sejumlah media, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menelusuri kasus penganiayaan pekerja migran Indonesia (PMI), Ika Sulastri, di Riyadh, Arab Saudi. Ika mengalami batuk berdarah hingga mimisan akibat kerap membawa beban yang berat. 

Kepala BP2MI Benny Rhamdani menjelaskan sejak awal proses pengiriman Ika ke Arab Saudi sudah melanggar Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 260 Tahun 2015 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) pada Pengguna Perseorangan di Negara-Negara Kawasan Timur Tengah. Pengiriman Ika dinilai ilegal.

“Dia berangkat 16 Januari 2020. Maka pihak yang memberangkatkan melanggar Permenaker karena banyak laporan eksploitasi, kekersan, pelanggaran HAM (hak asasi manusia), gaji enggak dibayar sesuai kontrak (di Timur Tengah),” kata Benny kepada Medcom.id, Kamis, 6 Juni 2020. 

Benny menjelaskan pada Rabu, 5 Juni 2020, Ika sempat berkomuniksai melaporkan kekerasan yang dialami. Namun, pada hari ini Ika tidak lagi dapat dihubungi BP2MI. 

BP2MI, kata Benny akan memberikan perlindungan sepenuhnya kepada Ika untuk bisa mendapatkan rasa aman dan nyaman. PMI perlu diperlakukan secara hormat. 

“Kita akan melindungi mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kita pastikan negara hadir,” tegas dia. 

Benny sudah berkomunikasi dengan Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) untuk menelusuri PT Elshafah Adi Wiguna Mandiri. Perusahaan yang mengirim Ika segera ditindak tegas.

“Kami tidak akan pernah kompromi siapa pun yang melakukan tindak kejahatan pengiriman PMI unprosedural,” imbuh dia. 

Dalam potongan percakapan pesan singkat WhatasApp, Ika Sulastri melaporkan kekerasan yang dialaminya. Ika menyebut luka setelah melahirkan secara sesar pada sembilan tahun lalu kembali meradang lantaran harus turun naik tangga dengan membawa beban yang berat.

Ika sudah mengajukan berhenti bekerja. Namun, ia harus membayar denda enam rial. Selain itu, kekerasan fisik lain sering dialaminya. Dia mengaku diludahi hingga dijewer majikan yang menyebabkan luka yang serius. (Zul/ Foto: Ist)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *