DPD Apjati Jabar dan Jatim Dukung Upaya Kepala BP2MI Perangi Mafia PMI

  • Whatsapp

Jakarta, Apjatinews.id – Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) Jawa Barat dan Jawa Timur mendukung upaya Kepala Badan PeIindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani dalam memerangi peranan para Mafia PMI yang selama ini dikenal dengan istilah sponsor atau calo.

“Saya sebagai Ketua Apjati Jatim mendukung upaya Bapak Benny Ramdhani untuk memberangus mafia-mafia penempatan PMI yang selama ini menjadi beban negara dan merugikan nasib PMI di luar negeri tempat bekerja,” ujar Mazlan Mansur kepada redaksi, Jakarta, Rabu (1/7/2020).

Menurut Mazlan, perilaku mafia PMI yang biasa dipraktekkan oleh para sponsor atau calon ini telah menjadi beban negara.

Selama ini tidak sedikit uang negara digunakan untuk menyelesaikan kasus-kasus PMI seperti, tidak dibayar gaji, mengalami penganiayaan dan hak-haknya tidak dipenuhi karena tidak memiliki perjanjian kerja serta mereka diberangkatkan tanpa prosedur yang ditetapkan pemerintah.

“Dengan adanya penempatan nonproseduran ini telah merugikan nasib PMI di Luar Negeri. Kkerasan terhadap PMI kerap terjadi karena mereka tidak memiliki kompetensi yang diperlukan padahal majikan telah mengeluarkan uang yang banyak,” papar Mazlan.

Selain mereka tidak terlindungi hak dan kewajibannya serta keselamatannya dikarenakan diberangkatkan secara non prosedural, Mazlan menambahkan bahkan tidak sedikit PMI yang di jadikan pemerasan dengan cara memotong gaji PMI selama bekerja di Luar Negeri yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah yang ada.

Ketua Apjati Jatim menjelaskan, sesuai dengan UU No 18 tahun 2017 sekarang ini sudah tidak ada lagi istilah PJTKI melainkan disebut dengan istilah P3MI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia).

“Saya keberatan terhadap polemik sekumpulan orang mengatasnamakan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Ataupun istilah sponsor dengan Bapak Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia ( BP2MI ) dan harus segera dihentikan.

Menurut Mazlan, pernyataan Kepala BP2MI itu ditujukan pelaku pelaku atau mafia yang melakukan penempatan PMI tidak mengikuti peraturan pemerintah.

“Emang kenapa dengan pernyataan KA Badan,? Kalau memang sudah melakukan penempatan sesuai aturan yang ada kenapa bereaksi yang sangat berlebihan? Kalau memang tidak merasa sebagai mafia kenapa kok bereaksi? Kan aneh?, ”

Sekali lagi, kata Mazlan dirinya sangat mendukung penuh langkah Kepala Badan BP2MI yang terus gigih memberangus praktek-praktek penempatan PMI yang tidak sesuai dengan peraturan pemerintah atau nonprosedural.

“Bahkan kami menyambut baik terhadap rencana pemerintah untuk penempatan PMI informal secara gratis. Artinya tidak ada biaya di depn atau potongan gaji sepeserpun,” imbuhnya.

Ditambahkannya, keinginan baik pemerintah tersebut jangan sampai ditunggangi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab atau yang selama ini disebut-sebut sebagai mafia oleh pemerintah.

Diwawancari terpisah, Sekretaris DPD Apjati Jabar, Ginting menambahkan bahwa peranan para calo atau sponsor sudah menguasai hampir sebagian besar dalam proses perekrutan Calon PMI. Hal ini karna mereka Langsung terjun di wilayah mereka sendiri selain mereka juga manfaatkan peluang besar/ruang besar dari P3MI yang tidak membuka cabang di daerah domisili CPMI.

“Di UU Nomor 18/2017 Tidak dikenal istilah sponsor, bahkan UU 39/2004 sendiripun tidak pernah di sebut istilah/ kalimat sponsor,” terangnya.

Lama kelamaan, ujar Ginting, kekuatan sponsor ini sudah menggurita dan akhirnya menjadi bumerang bagi P3MI sendiri karna bukan menjadi lebih efisien malah menjadi beban dalam cost rekrut yang cukup besar dalam variable biaya penempatan.

“Inilah mungkin yang diistilahkan oleh Pak Beny dengan sebutan Calo ataua Sponsor Bajingan. Jadi sah-sah saja komentar atau statemen Pak Beny,” katanya.

Bagi kita yg tidak merasa melakukan, lanjut Ginting, saya kira kita tidak usah tersinggung. Jika ada yang tersinggung berarti mereka yang melakukan hal itu jelas terganggu bisnisnya. yg kebakaran jenggot.

Ginting menambahkan, melakukan perubahan atau melakukan perbaikan itu memang sulit. Banyak tantangan, khususnya dari mereka yang merasa diusik bisnis koperasi/ lembaga keuangannya. Sebab selama ini mereka sudah cukup nyaman dengan situasi yang ada yang selama ini tidak ada yang protes.

“Pak Beny mencoba mendobrak itu. Tidak banyak orang yang berani melakukan itu. Kita mesti bersyukur ada orang yang berani seperti Pak Beny,” pungkasnya. (Zul)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *