Terima Laporan dari LSM, BP2MI Kembali Gagalkan Pemberangkatan PMI ke Timur Tengah

  • Whatsapp

Jakarta, Apjatinews. id – Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) kembali menggagalkan pemberangkatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Timur Tengah. Dua orang PMI tersebut datang bersama perwakilan LSM Baranusa, Furqon, menemui Kepala BP2MI, Benny Rhamdani, di Kantor BP2MI Jakarta, Senin (21/12/2020) malam. Mereka membawa pengaduan mengenai rencana pemberangkatan PMI secara nonprosedural ke Timur Tengah.

“Awalnya saya diajak teman untuk bekerja ke Timur Tengah dengan masa kerja 3 bulan dan gaji 1500 real. Saya lalu dijanjikan oleh sponsor yang bernama Imam Syafi’i bahwa akan bekerja di Arab Saudi sebagai cleaning servis. Diinfokan bahwa saya hanya tinggal berangkat saja karena semuanya sudah disiapkan. Akhirnya saya bersama seorang teman, Susan Yunita, diminta untuk ke tempat penampungan di daerah Condet,” ungkap Desi Makaramah, salah satu calon PMI tersebut.

Diakui oleh Desi, sesampainya di tempat penampungan ia sudah menaruh curiga karena seluruh dokumen telah disiapkan, mulai dari passport, visa, tiket keberangkatan tanggal 19 Desember 2020 pukul 18.00 WIB, hingga hasil swab Covid-19. Padahal ia dan Susan belum pernah mengurus dokumen-dokumen tersebut, termasuk tidak pernah melakukan tes swab.

“Saya mulai curiga dan setelah itu saya dikabari oleh teman saya yang lebih dulu berangkat, ternyata dia diberangkatkan secara nonprosedural dan saat ini sudah berada di Arab Saudi, namun sedang dalam masa pelarian juga karena dokumen yang tidak lengkap,” lanjut Desi.

Ia pun memutuskan menghubungi Furqon untuk meminta bantuan dan nekad melarikan diri dari tempat penampungan bersama Susan pada Sabtu (19/12/2020) pagi. Mereka juga membawa serta bukti dokumen untuk ditunjukkan. Setelah memastikan bahwa dokumen-dokumen tersebut palsu, mereka bersama para anggota LSM Baranusa mendatangi BP2MI untuk menyampaikan informasi sekaligus pengaduan.

“Tadi pagi saat sedang berada di Bogor, saya bahkan sempat didatangi oleh anak buah Imam. Mereka bahkan melakukan tindak kekerasan kepada saya, mulai dari menarik tangan, menyeret, hingga meludahi. Saat saya teriak, barulah mereka melepaskan saya, karena warga juga sudah mulai berdatangan,” tutur Susan. Ia pun mengaku telah melaporkan tindak kekerasan tersebut ke Polres Bogor.

Malam itu juga BP2MI melalui UPT BP2MI DKI Jakarta melakukan penggerebekan ke lokasi penampungan dan menemukan 2 orang anak buah Imam Syafi’i. Mereka lalu dibawa ke Kantor BP2MI bersama 4 orang calon PMI lain yang rencananya akan diberangkatkan ke Timur Tengah. Kepala BP2MI kemudian memberikan nasehat kepada mereka.

“Saya memperingatkan kembali bahwa sejak tahun 2015, Pemerintah Indonesia sudah melakukan moratorium pengiriman PMI ke Timur Tengah, karena banyaknya kasus yang terjadi di sana, mulai dari kekerasan fisik, tidak digaji, bahkan penyiksaan. Kenapa masih mau bekerja ke sana dengan gaji yang kecil dan banyak tindak kekerasan, padahal sekarang terbuka kesempatan untuk bekerja di negara lain, misalnya di Jepang, dengan gaji yang jauh lebih tinggi, bisa mencapai lebih dari Rp 20 juta,” jelas Benny.

Masih dilanjutkan oleh Benny agar masyarakat tidak percaya oleh janji-janji calo yang menamakan dirinya sponsor, karena iming-iming tersebut hanya kebohongan semata.

“Saya sudah mendapat perintah langsung dari Presiden RI untuk melindungi ibu-ibu sekalian sebagai calon PMI. Jangan sampai menjadi korban di luar negeri, karena itu kami melindungi sejak dari sini,” tandas Benny. (Red)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *