Apjati Apresiasi Polres Majalengka Tangkap Tiga Penyalur Pekerja Migran Ilegal

  • Whatsapp


Cirebon, Apjatinews.id – Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) mengapresiasi Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Majalengka, Jawa Barat, yang berhasil menangkap tiga tersangka penyalur pekerja migran secara nonprosedural, setelah mendapatkan laporan dari keluarga korban.

“Polres Majalengka telah membantu pemerintah untuk mencegah penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara nonprosedural. Ini merupakan tindak kejahatan yang harus dikenakan pasal Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” ujar Ketua Umum Apjati, Ayub Basalamah Jakarta, Senin (18/1/2021).

Ayub mengharapkan, upaya penangkapan penyalur PMI nonprosedural oleh Polres Majalengka ini bisa menjadi perhatian para Kapolres dan Kapolsek lain di Indonesia. Pasalnya, hingga kini tidak sedikit banyak calon PMI yang telah menjadi korban perekrutan nonprosedural.

“Apjati berharap agar Kapolri terpilih nanti konsen terhadap TPPO dan masuk dalam skala prioritas,” terang Ayub,

Bagi para pencari kerja ke luar negeri, Apjati menyarakan agar mendatangi langsung dinas tenaga kerja terdekat. Calon PMI diminta hati-hati dengan bujuk rayu bisa bekerja ke luar negeri tanpa melalui prosedur yang ketat alias dibuatkan dokumennya.

“Ingat, carilah informasi yang benar di kantor pemerintah. Bekerjalah dengan aman karena keluarga anda juga mengharapkan anda tidak akan mendapatkan masalah jika bekerja melalui perusahaan yang direkomendasi oleh disnakertrans setempat,” gugah Ayub.

Sebelumnya, seperti diberikan media, Kasat Reskrim Polres Majalengka AKP Siswo DC Tarigan di Majalengka, Senin mengatakan tiga orang kita tangkap karena menyalurkan pekerja migran secara ilegal.

Siswo mengatakan kasus penyalur pekerja migran ini bisa juga dikatakan sebagai perdagangan orang, sebab tersangka mencoba menempatkan korban di negara dengan tidak memenuhi prosedur.

Kasus perdagangan orang yang ditangani Satreskrim Polres Majalengka terungkap berkat laporan dari keluarga korban yang merasa ditipu oleh ketiga tersangka.

Untuk modus yang digunakan tersangka yaitu korban berinisial IN ditawari bekerja di Malaysia. Setelah 2,5 bulan korban masuk balai latihan kerja (BLK) yang berada di Indramayu kemudian di pulangkan ke rumah karena situasi pandemi.

“Kemudian pada bulan November 2020, korban dihubungi dan diminta untuk mengirimkan foto diri karena akan diberangkatkan ke Timur Tengah. Tapi korban menolak,” ujarnya.

Akan tetapi lanjut Siswo, pada 24 Desember 2020, tersangka datang ke rumah korban dan memaksa berangkat ke Jakarta dengan alasan bahwa visa sudah turun dan biaya untuk tes usap sudah dibayar.

Kemudian korban dijemput oleh tersangka dan berangkat menuju Jakarta, namun di perjalanan korban dialihkan ke mobil travel dan sesampainya di Jakarta ia dijemput rekan tersangka lainnya yang mengaku pihak PT dan membawa korban ke penampungan.

Dari informasi yang diterima oleh korban bahwa dirinya akan diberangkatkan ke Uni Emirat Arab, Abu Dhabi. Dengan menggunakan identitas orang lain atau ilegal.

“Para tersangka diancam hukuman maksimal 15 tahun penjara, dan denda paling banyak Rp5 miliar,” katanya. (Zul)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *