Benny Lepas PMI Korea, Apjati Apresiasi BP2MI dan Minta Tingkatkan Penempatan PMI Berkeahlian ke Mancanegara

  • Whatsapp

APJATINEWS.ID – Sekretaris Jenderal APJATI Kausar N. Tanjung, SE memberikan apresiasi kepada   Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani, yang pada Kamis (9/12/2021) melepas keberangkatan sebanyak 30 Pekerja Migran Indonesia (PMI)  ke Korea  di Anara Airport Hotel, Tangerang, Banten.

“Kami berharap penempatan 30 PMI ke Korea ini menandakan tekad dan kepedulian Pak Benny untuk makin banyak menempatkan PMI semi skill dan skill ke mancanegara,” ujar Kausar diwawancarai via selular, Jakarta, Rabu (15/12/2021).

Sekjen Apjati dua periode ini menegaskan, penempatan PMI memang sudah harus mulai dijalankan kembali paska banyak negara penempatan mulai membuka diri untuk masuknya pekerja migran.

Kausar menjelaskan, untuk Taiwan, Apjati pada Selasa (23/11/2021) kemarin telah menempatan 850 PMI yang merupakan bagian penempatan tahap pertama dari kuota 1.700 PMI yang diberikan otoritas Taiwan untuk bekerja di negaranya.    

Ssebelum diterbangkan, ke Taiwan, PMI di karantina selama 5 hari di BLKLN, 3 hari 2 malam di karantina di hotel yang telah di koordinasikan dengan Apjati.

Selain itu, ada juga P3MI yang mengkarantina 7 hari 6 malam di karantina, Hote, dengan biaya sesuai SOP Prokes Kesehatan menjadi beban majikan. Saat masuk hotel PMI harus menjukan sertifikat 2 kali telah divaksin, tes antigen, cek suhu tubuh.

Sebelumnya, seperti dimuat di situs bp2mi.go.id, Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani, melepas keberangkatan sebanyak 30 Pekerja Migran Indonesia (PMI)  ke Korea Selatan, Kamis (9/12/2021) di Anara Airport Hotel, Tangerang, Banten.

Benny mengaku sangat senang dapat bertemu langsung dan bertatap muka dengan 30 PMI yang akan bekerja di sektor fishing dengan skema penempatan Government to Government (G to G) ke Korea Selatan.

“Saya mengerti bahwa teman-teman semua memiliki mimpi indah untuk bekerja di Korea Selatan. Namun, karena situasi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, mimpi tersebut harus tertunda selama dua tahun. Oleh karena itu, pertemuan kita hari ini tentu harus sangat disyukuri oleh kita semua,” ujar Benny.

Pada pertemuan ini, Benny menjelaskan berbagai upaya negara untuk dapat memudahkan proses penempatan ke negara tujuan bagi PMI, termasuk pembebasan biaya Preliminary Education untuk skema penempatan G to G.

“Ini adalah skema penempatan yang dilakukan oleh pemerintah. Menurut saya lucu jika negara harus menarik biaya dari para Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI). Di era kepemimpinan saya (di BP2MI), tidak ada biaya Preliminary Education yang dibebankan ke CPMI. Walaupun anggaran kami terbatas, namun kami terus berikhtiar untuk mencari berbagai cara agar para CPMI tidak perlu menanggung biaya Preliminary Education,” jelasnya.

Selain itu, sambung Benny, para PMI juga kini dimudahkan dengan adanya fasilitas Kredit Tanpa Agunan (KTA) dari BNI yang juga ditawarkan sebagai alternatif pembiayaan modal sebelum bekerja.

“Dulu juga ada KUR (Kredit Usaha Rakyat) Tenaga Kerja Indonesia (TKI), tapi bunga yang dibebankan kepada PMI mencapai 28,8 persen dan pengurusannya harus melalui Koperasi Simpan Pinjam. Namun, saat ini sudah ada fasilitas KUR dari BNI dengan bunga lebih rendah, hanya enam persen saja dan PMI melakukan proses akad langsung dengan pihak bank,” jelas Benny.

Benny mengatakan, saat ini sedang berusaha untuk mengubah pola pikir masyarakat bahwa PMI adalah pekerjaan rendahan. Itu salah besar! PMI telah menyumbangkan devisa Rp 159,6 trilyun setiap tahunnnya, kedua terbesar setelah sektor migas.

“Oleh karena itu, PMI sangat layak disebut sebagai pahlawan devisa yang harus dilindungi. Kalian semua adalah orang-orang hebat yang berani meninggalkan keluarga dan Tanah Air,” ujar Benny seraya meminta maaf jika ada kekeliruan dan kekurangan selama penyelenggaraan proses penempatan PMI.

Ansori, salah satu PMI yang berasal dari Grobogan, Jawa Tengah mengungkapkan rasa syukurnya karena proses penempatan G to G ke Korea Selatan telah dibuka kembali. Ia  berterima kasih kepada BP2MI karena telah mengusahakan para CPMI untuk bisa bekerja ke Korea Selatan.

“Selain itu, CPMI juga merasa sangat terbantu dengan adanya fasilitas KTA dari BNI. Semoga saya dapat sukses bekerja di Korea Selatan dan kembali pulang kepada keluarga dengan selamat,” harap Ansori.

PMI lainnya, Veri Alista, yang berasal dari Pati, Jawa Tengah mengaku bangga terhadap BP2MI yang telah mampu memberangkatkan para CPMI bekerja ke Korea Selatan. “Saya acungkan jempol untuk Pak Benny yang telah membantu dalam proses pemberangkatan kami ke Korea Selatan,” puji Veri.  

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *